Harga Sebuah Persahabatan

Diposting oleh mermanarts on Senin, 14 November 2011

Cerita, Motivasi & Renungan #24



Kucing adalah seorang gadis yang periang, sebelum memasuki gerbang kampus. Menjajaki dunia perkuliahan. Kucing adalah seorang gadis yang lucu dan suka bercanda sekaligus tertawa. Suatu hari, ketika kucing sedang berdiskusi dengan teman - teman kucing di kelas. Membicarakan tentang perpisahan, apa yang akan teman - teman lakukan setelah keluar dari sekolah. Kebanyakan dari mereka karena tamatan SMEA, pada berpikir untuk menikah saja. Prosentase yang menikah muda 60 %, bekerja 30 % dan melanjutkan pendidikan hanya 10 % dari jumlah 40 siswa.

Kesombongan kucing yang selalu mengagung - agungkan kekayaan ayahnya yang sekiranya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi membuatnya semakin besar kepala. Kucing selalu menyindir mereka, "Kenapa nikah muda?", "kenapa kamu kerja? Nggak penting banget deh!
, "Mending kuliah aja! Kaya aku, di kampus terkenal!" begitu kucing berbicara pada mereka semua.

Kucing merasa tak akan pernah kehilangan siapapun setelah mengatakan hal tersebut, karena kucing merasa bangga dan percaya bahwa esok setelah masuk ke dalam dunia baru, maka kucing bakal mendapat banyak teman yang jauh lebih banyak.

hanya ada 4 orang dari 40 siswi yang ingin melanjutkan pendidikan D3 atau S1 di kampus biasa - biasa saja. Sedangkan kucing masih tetap membangga - banggakan kampus baru yang akan disinggahinya 4 tahun ke depan. Kucing pun berkata pada sahabat kucing sendiri yang juga punya rencana kuliah di ASMI Surabaya.

"Hei, Fen! Kamu harus beli baju yang banyak! Karena kuliah itu tidak memakai seragam seperti ini! Kalau bajunya tidak bermerek, bisa diejek habis2an! Aku setiap bulan beli kemeja tuh, buat persiapan!" Itu perkataan kucing pada Fenny sebelum berpisah. Air mata Fenny, yang seorang gadis yatim dan miskin mengambang. Dan kucing sama sekali tidak menyadarinya, karena kucing terlalu angkuh dan bangga pada dirinya sendiri.

Hari perpisahan pun dimulai, seluruh teman2 berkumpul untuk mengadakan acara perpisahan. Tapi kucing pulang terlebih dahulu tanpa memperdulikan mereka. Karena bagi kucing saat itu adalah teman - teman itu tidak penting dan tidak berharga buatnya. Kucing tidak tahu bahwa seluruh teman - teman sedang menatap kucing berlari pergi dari sekolah, sedang mereka asyik2an menyemprot baju seragam mereka dengan pilox. Kucing mengejek mereka di dalam hati,"Buat apa main semprot2an? Mending bajunya dikasihkan pengemis daripada disia - siakan seperti itu."

sebulan setelahnya, kucing masuk ke dalam kampus baru yang mewah. Kucing berharap akan mendapatkan teman2 yang banyak dan lebih banyak dari sekolahnya dulu. Seminggu setelah acara ospek selesai, kucing memakai pakaian 2 barunya. Ternyata, tak seperti yang dia bayangkan saat itu. Sifat kucing yang kekanak2an dan sering bercanda dianggap teman2 kampus adalah sesuatu hal yang memalukan. Padahal dulunya kucing sering seperti itu bersama teman2nya dahulu.

akhirnya, Kucing dijauhi oleh teman2 kampus sekelas berjumlah 70 orang. Saat kucing datang terlambat, kucing mendapat bangku terdepan yang menghadap dosen. Dan penghinaan datang bertubi2 dari teman2 baru kucing di kampus. Kemudian kucing merenung sesaat, suasananya sangat berbeda dengan kebebasan di sekolahnya dulu saat bersama dengan teman2nnya. Keceriaan yang kini berubah menjadi keseriusan dan kecanggungan. Bahwa masih ada yang lebih kaya dibanding kucing. Kucing sedih dan menangis di dalam hati, sampai pada suatu hari karena kucing merasa tertekan batin oleh suasana adaptasi baru yang tidak mengenakkan. Kucing sakit, kucing pingsan di dalam kampus berkali2. Dan seperti cerita roki sebelumnya, kucing terkena penyakit kelelahan berpikir.

Akhirnya, kucing yang ceria menjadi pendiam sejati. Tidak mau bicara jika tidak diajak bicara. Suatu hari, saat kucing tiduran di rumah, telepon berdering. Sore itu kucing habis terkena mimisan dan baru pingsan di kampus. Sebuah deringan telepon itu adalah dari seorang bekas temannya yang pernah dihinanya, seorang gadis yatim yang terlihat genangan air mata saat kucing menyuruhnya membeli pakaian baru. Sementara ayah gadis itu sudah meninggal dan tak mungkin dengan sering membeli pakaian baru.

Fenny....
Dia terkejut saat mengetahui kucing sakit parah, dia berteriak di dalam telepon,"Kucing!!! kamu sakit! nggak mungkin! Kamu nggak pernah sakit separah itu!" teriak Fenny memekakkan gendang telinga kucing. Namun kucing malah tersenyum dan tertawa senang atas perhatiannya itu.
Yang tidak disangka - sangkanya, Kucing yang selalu menghina kampus Fenny yang terlihat tidak bonafit, status D3 nya yang kurang dari S1.

tahun pun berlalu...
kesombongan kucing hanya tinggal sebuah kata2 basi. Karena gadis yatim itu lebih berhasil daripada kucing sendiri. Nasib yang tak disangka2 oleh kucing. Fenny yang telah lulus dari kampus ASMI, sementara kucing malah terkena Drop out dari kampus karena terlalu bodoh! Dan tidak ada biaya persebab kekayaan ayah kucing amblas tiba2. Kucing sangat merasa malu dan tidak tahu harus berkata apa ketika Fenny sering menelpon dari kantornya. Sedangkan kucing menjadi pengangguran. Namun, kucing masih tetap sedikit angkuh, dia selalu berkata,"Fen, aku akan melanjutkan kuliah di sini...", agar tidak merasa terendahkan oleh Fenny.

Tapi, Fenny tetap setia menjadi teman kucing sampai saat ini. Fenny yang rendah hati dan sekarang menjadi seorang sekretaris di salah satu perusahaan kapal Surabaya. Dibandingkan dengan kucing yang malas2an di rumah dan hanya sekedar menjadi penulis biasa. Fenny yang sekarang memiliki banyak teman dan relasi di dunia kerja. Sementara kucing menjadi seperti seekor katak di dalam tempurung.

Akhirnya, kucing pun sadar bahwa kesombongan itu menghancurkan segalanya. Tapi, andaikata Fenny tak pernah mengingatku, entah apa yang akan terjadi. Tanpa dirinya.

seorang sahabat setia, yang lucu dan sejalan dalam prinsip. Seorang gadis yatim yang sebelum berpisah memberikan sebuah sweater kesayangannya pada kucing. sweater tebal yang selalu menghangatkan tubuh kucing. Sweater dari seorang sahabat yang tak pernah berpikir jelek tentang kejelekan kucing dan selalu ceria.

Fenny, sweater itu, dari tahun 2002 sampai sekarang selalu kupakai kemana pun kucing pergi. Sweater ini akan dikembalikan saat dia menikah, tapi dia belum menikah. Saat itu kucing bertanya, "Fen, apa sweatermu ini harus kukembalikan?"
dia menjawab, "Tidak perlu,kau pakai saja"

Dan kucing berkata, "Fen, tahukah kamu, sweater ini selalu kupakai saat aku keluar dari rumah. Sweater yang sudah usang ini selalu melekat di tubuhku. Kau tahu, ternyata persahabatan kita tak pernah pudar...."

Dan, inilah kisah persahabatan kucing dengan sahabat kucing. Harga dari sebuah persahabatan tak terhitung jumlahnya dan berapa banyaknya. Saat ketika diriku tersadar dari keangkuhan dan kebanggaan diri yang tak pernah bisa patut dibanggakan selain menangis. Kenapa dulu aku berkata seperti itu padanya, tapi dia tetap memberikan sweater itu sebagai tanda persahabatan sedangkan kucing tak memberikan apa2 selain, kata,"Semoga kita lekas berjumpa lagi!

Semoga kita lekas berjumpa lagi, Fenny! Tidak hanya sekedar berhubungan lewat telepon, karena kucing sangat merindukan kehadiranmu!!!
More about → Harga Sebuah Persahabatan

Dedikasi Seorang Kiper

Diposting oleh mermanarts on Jumat, 11 November 2011

Cerita, Motivasi & Renungan #23

Ada seorang kiper futsal yang menurut saya mempunyai dedikasi luar biasa.
Namanya Indra.
Seberapa sulit apapun bola yang menuju ke gawangnya selalu dihalaunya, sekuat tenaga, sesulit apapun, sebahaya apapun.
Pernah suatu kali bola ditendang keras penyerang ke arah tengah,
ia menangkis dengan keras dan bola memantul ke arah kiri.
Dalam hitungan detik, pantulan itu ditendang lagi lawan dari arah kiri,
ia meloncat ke gawang kiri ternyata bola kena tiang, bahkan kepalanya pun terbentur tiang,
sialnya bola memantul ke kanan dan tertahan di kaki lawan di sebelah kanan
dan kali ini tendangan langsung dari arah kanan,
buzzz, semua pendukung lawan sudah sorak sorai karena pasti goal,
sebab kiper sedang dalam posisi terjungkal di posisi kiri.
Ternyata entah bagaimana, Indra tiba tiba sudah berbalik ke kanan
dan ujung jarinya sempat menyentil bola, sehingga bola nyasar ke kiri luar gawang.
Semua sorak sorai berhenti. Goal sekali lagi gagal disarangkan.
Baik lawan maupun lawan mengakui dedikasinya menjaga gawang.
Berapa gajinya?
NOL! Tidak digaji alias gratis. Ini pertandingan just for fun.
Lalu kenapa ia begitu bertanggung jawab.
Karena ia sadar ketika ia setuju menjadi kiper, maka ia bertugas menjaga gawang.
Ia sadar ketika setuju menjadi kiper maka ia menjadi benteng terakhir pertahanan timnya.
Bukan masalah gaji, tapi masalah komitmen.
Ia berdedikasi karena ia punya komitmen.

Artikel ini justru saya tulis bukan karena baru saja menyaksikan aksi Indra.
Melainkan karena saya baru menyaksikan aksi Aldi,
seorang anak SMP yang juga jadi kiper untuk tim futsalnya.
Sama seperti Indra ia juga membuat lawan frustasi karena dedikasinya menjaga gawang.
Juga sama seperti Indra ia juga tidak digaji.

Keduanya mengingatkan saya dengan prinsip KOMITMEN dan DEDIKASI.
Dua kata ini yang sebenarnya akan membuat bangsa kita akan maju atau terpuruk.

Seringkali kita mendengar kasus korupsi merebak di tanah air,
baik di swasta maupun pemerintahan.
Banyak yang bilang penyebab korupsi adalah gaji yang kecil.
Padahal kenyataannya, banyak kasus korupsi dilakukan oleh pejabat tinggi dan bergaji besar, dan sebagian besar korupsi dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan untuk memenuhi keserakahan dan hidup mewah.
Jadi bukan gaji kecil yang membuat orang korupsi tapi mental yang kerdil, jiwa dan iman yang kecil.
Berapapun gaji kita berikan, kalau tidak ada KOMITMEN dan DEDIKASI korupsi akan tetap marak.
Sebaliknya kalau punya komitmen dan dedikasi, sekecil apapun gaji akan bekerja sebaik mungkin.

Semoga saja kita termasuk orang yang memegang komitmen dan berdikasi atas komitmen kita.
Kalau kita setuju menerima pekerjaan dengan gaji kecil, artinya kita tahu bahwa kita akan bekerja dengan dedikasi tinggi sekalipun gajinya kecil.
Percayalah kalau kita memegang komitmen dan berdedikasi dalam bekerja, sekalipun gajinya kecil, pasti akan ada pintu rizki halal yang terbuka.

sumber : chicken soup bluefame
More about → Dedikasi Seorang Kiper

24 Jam

Diposting oleh mermanarts on Selasa, 08 November 2011

Cerita, Motivasi & Renungan #22
 Ada seorang cewek memberikan tantangan kepada cowoknya untuk hidup tanpa drinya, untuk tidak ada komunikasi sama sekali antara mereka selama sehari..Dia berkata pada cowoknya, kalo kamu bisa melewati itu, aku akan mencintai kamu selamanya.. Si cowoknya pun setuju,, dia tidak sms/telpon ceweknya seharian..

Tanpa dia ketahui bahwa cewenya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker..

Keesokan harinya cowonya pergi kerumah ceweknya. Air matanya pun tiba-tiba menetes melihat ceweknya sudah terbaring dengan surat di tangannya yang tertulis "Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari??I LOVE YOU.."
More about → 24 Jam

Melepaskan Sepatu

Diposting oleh mermanarts on Senin, 07 November 2011

Cerita, Motivasi & Renungan #21
 
Suatu hari ada orang yang menghadiri acara yang dilaksanakan dengan
duduk bersila bersama. Dia kehilangan sepatunya. Setelah acara
selesai, dia mencari-cari dimana sepatu yang tadi dia lepaskan sebelum
memasuki ruangan itu. Lama dia mencari hingga semua yang hadir telah
meninggalkan tempat, tetapi sepatunya belum juga ketemu.

Sekarang pikirannya mulai gelisah, sangat gelisah. Dia kehilangan
sepatunya dan menjadi risau, bagaimana nanti kalau pulang tanpa alas
kaki. Tidak hanya gelisah, dia pun mulai mencurigai orang-orang
tertentu sebagai pencuri sepatunya. Kegelisahan dan kemarahan pun
dibawanya sampai ke rumah. Banyak orang di rumah mendapat porsi
kemarahannya juga. Demikian juga sampai malam menjelang tidur, dia
selalu memikirkan siapakah pencuri sepatunya. Sampai waktu tidur, dia
pun bermimpi menemukan kembali sepatunya. Tetapi begitu terbangun,
ternyata hanya mimpi, kecewa sekali. Sepatu yang hilang itu telah
menyita waktu bahkan menyiksa pikirannya selama berhari-hari. Dia
penasaran sekali.

Orang itu akhirnya datang kepada saya. Tetapi, bukannya meminta
nasihat akan kepusingannya– setelah dia menceritakan tentang sepatunya
yang hilang dan kepusingannya yang sudah beberapa hari–dia langsung
saja bertanya, dimana sekarang sepatunya itu. Dia menganggap saya
mempunyai kemampuan di luar kemampuan manusia biasa, bisa melihat dari
jauh keberadaan sepatunya sekarang.

Saya menjawab, “Oh ya, saya tahu di mana sekarang sepatu Anda yang
hilang itu.” Seketika wajahnya menjadi berseri-seri. Saya melanjutkan
menjawab, ”Sepatu Anda sekarang berada di dalam pikiran Anda sendiri”.
Dia sejenak terkejut, tetapi lalu menunduk agak tersipu-sipu malu.
Kemudian saya menjelaskan bahwa kita cenderung menyimpan dan
mengumpulkan banyak hal, tidak mau berlatih melepas, termasuk
mengumpulkan masalah, yang kecil-kecil sekalipun. Kita simpan dan kita
bawa kemana-mana masalah-masalah yang menyiksa itu.

Kalau kita belajar melepas milik kita secara benar dengan cara
memberikan dana, memberi amal pertolongan kepada siapapun yang
memerlukan–yang sudah tentu dilakukan sesuai dengan kemampuan
kita–maka kita mulai balajar melepas. Tidak hanya mengikuti
keserakahan dengan mencari, mengumpulkan, dan menyimpan. Terus
mencari, mengumpulkan dan menyimpan sepanjang hari, selama hidup.
Sulit melatih diri melepaskan sesuatu untuk kebajikan.

Kalau kita sering dan senang berlatih melepas dengan memberi
kebajikan, maka kalau timbul masalah yang mengganggu pikiran, kita
bisa dengan tidak sulit melepaskannya. Mana yang Anda pilih? Materi
Anda tetap utuh tetapi pikiran Anda kacau, hancur; atau biarlah materi
terlepas – kalau memang amat sulit didapat kembali – asalkan pikiran
atau mental Anda tidak hancur. Dalam kehidupan ini, bukankah kita
menginginkan ketentraman? 
More about → Melepaskan Sepatu

Garam dan Telaga

Diposting oleh mermanarts on Minggu, 06 November 2011

Cerita, Motivasi & Renungan #20
 
 Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.

Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, "ujar Pak tua itu.

"Asin. Asin sekali, "jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu.

Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar," sahut sang pemuda.

"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya Beliau lagi.

"Tidak," jawab si anak muda.

Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.

Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Beliau melanjutkan nasehatnya. "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
More about → Garam dan Telaga